Jumat, 06 Juni 2014

CERPEN



Minggu / 18 MEI 2014
Laki-laki yang memegang tali dengan Si AGUS
Salam…. Kawan, perkenalkan ya,,, namaku Lia, hari ini aku akan berbagi cerita kepada kalian semua…
Siang itu aku sedang duduk di ruang tamu rumah ku, aku sedang sibuk menyelesaikan tugas ku menggunakan laptop ku, saat itu aku nampak santai, namun tak berapa lama ada yang mengusik kesibukan ku.
Aku mendengar musik gamelan jawa dimainkan, musik itu sangat keras.  Ditambah lagi dengan suara teriakan dan tawa anak anak, yang tentunya itu adalah suara dari anak tetangga-tetangga rumah ku. Awalnya aku biasa saja mendengar semua keributan di luar rumah ku itu, aku tetap fokus mengerjakan tugas-tugas ku, tapi pikiran ku mulai bertanya-tanya, “Ada apa sih diluar sana? Suara apa itu? Mungkin itu suara pertunjukan topeng monyet kali ya?” bermacam-macam pertanyaan yang silih berganti memenuhi pikiran ku, hingga akhirnya, setelah beberapa menit aku pun beranjak dari tempat duduk ku.
Aku hampiri kaca jendela rumah ku, dan ternyata dugaan ku benar, suara yang sangat ribut itu adalah suara dari pertunjukan topeng monyet. Kulihat seorang laki laki memegang tali yang sangat panjang, dia tersenyum kecil, awalnya aku heran, “Mana monyet nya? Mengapa laki-laki itu berdiri sendiri? Mengapa juga dia tersenyum sambil memegang tali? Siapa yang memainkan musik jawa itu?”  lalu laki-laki itu menarik tali yang ia pegang dengan sekuat-kuatnya, dan muncul lah si monyet. Monyet itu bersepeda, monyet itu bersepeda dengan sangat cepat “Ooohh.. ternyata tali yang panjang itu digunakan untuk menarik sepeda si monyet, supaya monyet nya bisa bersepeda dengan cepat yaaa…” gumam ku dalam hati.
Topeng monyet yang aku saksikan ini berbeda dari pertunjukkan topeng monyet biasanya, aku pun ikut menikmati pertunjukan topeng monyet itu. Saat aku menikmati pertunjukkan nya, entah mengapa air mataku jatuh,,,,,, hati ku terasa saaaangat sakit,,,,,, perasaan ku pun menjadi sedih. Semua itu terjadi saat aku melihat laki-laki yang memegang tali itu, ku lihat badannya cukup besar, badannya juga tinggi, kulit nya berwarna hitam manis, “Hmm,,, sepertinya dia adalah orang yang tangguh” --gumam ku dalam hati-- tapiii…. raut wajah nya telah menjawab semua pendapat-pendapat ku tentang dirinya. Hingga sebuah senyuman kecil yang ku lihat tadi, tak dapat menutupi keadaan dirinya. Yaa.. terlihat jelas bahwa dia sedang dalam kondisi yang tidak baik.
Berbagai kalimat tanya dan pendapat ku pun kini kembali lagi memenuhi benak ku. “Lihat… lihat dia Lia,, apakah laki-laki itu sudah makan tadi pagi? Sempat kah dia mandi tadi pagi? Apakah dia tidak merasa lelah melakukan pertunjukkan topeng monyet ini disaat hari yang sangat terik ini? Dimana tempatnya untuk beristirahat?” semua kalimat-kalimat itu tak dapat aku jawab. Aku terus saja menangis….. Dalam tangis ku itu tersirat rasa kasihan yang saanngat mendalam. Aku juga merasa sedih, serta kecewa ---kecewa pada diri sendiri----
Dengan melihat pertunjukkan itu melalui kaca jendela rumah, tentu saja membuat ku tambah penasaran dengan aksi-aksi si monyet, aku pun keluar rumah agar aku dapat melihat dengan jelas pertunjukkan topeng monyet itu.
Lagi-lagiiiii……. Air mata ku menetes, bagaimana tidak??!!… pikir ku, tali yang panjang tadi digunakan untuk menarik sepeda si monyet, tapi ternyata tali itu diikatkan pada kalung si monyet, “berartiiii… si monyetlah yang di tarik, bukan sepedanya?! Kasihan sekali kamu monyet malang…”. Berkali-kali monyet itu mondar-mandir dengan sepedanya,Ayoo Aguuuss,,, yaa,, Agus terjatuh.. sekarang Agus mau sholat---kata laki-laki yang memegang tali---  ternyata monyet itu bernama Agus, Agus –si monyet—pun juga beraksi seperti orang sholat, setelah pertunjukkan topeng monyet itu hampir selesai, aku pun masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang untuk membayar pertunjukkan topeng monyet itu.
Sesudahnya aku pun mendekat ke pagar halaman rumah ku, ku tengok ke kiri,, banyak sekali tetangga ku yang menyaksikan pertunjukkan ini, ada tetanggaku yang memberi si Agus pisang, lalu setelah aku tengok ke kanan, kulihat lagi dua orang laki-laki. Ternyata laki-laki yang memegang tali itu tidak sendirian, dia bermain pertunjukkan topeng monyet bersama dengan dua orang temannya, “Ooohh,, ternyata dua orang ini yang memainkan musik gamelan jawa nyaaaa…” Satu persatu pertanyaan dalam benakku mulai terjawab, setelah beberapa saat laki-laki yang memegang tali itu pun berjalan, tak lupa pula ia bawa sebuah toples menuju orang-orang yang menyaksikan pertunjukkan itu, dia meminta upah dengan sukarela.
Laki-laki yang memegang tali itu masih saja tersenyum kecil sambil membawa toples yang berisi uang, semua orang pun telah memberikan upahnya, tak lupa pula lagi-lagi tetangga ku memberikan bekal pisang kepada si Agus. Lalu dua orang temannya pun mulai beranjak, laki-laki yang memegang tali itu juga terus berjalan mengikuti dua orang temannya sambil menarik si Agus.
Pertunjukkan topeng monyet pun selesai, aku pun masuk ke dalam rumah dengan menyaksikan dua orang laki-laki, laki-laki yang memegang tali dan si Agus pergi.
---------------------------------
Rasa kasihan, dan sedih bercampur haru ini bukan tanpa alasan, tetapi karena melihat semangat laki-laki yang menarik tali, si Agus dan dua orang teman laki-laki itu dalam bekerja sekaligus menghibur orang-orang. Mereka berkeliling, berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya, tentunya dengan membawa peralatan musik gamelan jawa yang berat, dia menggendong Agus, saat permainan mulai dia juga menarik tali dengan kuat, dan itu semua mereka lakukan tanpa mengeluh, panasnya cahaya matahari yang menyengat tubuh tidak mereka hiraukan, laki-laki yang meraik tali itu dan dua orang temannya tetap tersenyum walau dengan senyuman kecil. 
Dengan semua beban itu dan segala keterbatasan yang mereka punya, mereka masih bisa semangat untuk bekerja, masih bisa tersenyum untuk bahagia, masih bersama untuk berbagi suka maupun duka.
Rasa kecewa ini juga memang sepatutnya ada, yaitu kekecewaan dari apa yang apa yang kita usahakan dengan apa yang telah mereka usahakan, jika membandingkan diri ini dengan mereka –dgn niat utk bermuhasabah— tentu sangat terlampau jauh bedanya, kita mungkin dalam keadaan yang baik. Kita dapat makan dengan kenyang, mereka harus memeras keringat dulu agar dapat makan, kita dapat beristirahat dengan nyaman, mereka beristirahat dgn tempat yang seadanya, kita mengahabiskan waktu untuk bermain-main, mereka menggunakan waktu untuk hidup. 
Sudahkah kita bersyukur kepada Allah.SWT? Bersyukur dengan menggunakan pinjaman-NYA untuk hal-hal yang baik-baik, untuk beramal sholeh. Saat ditimpa masalah / musibah, apakah kita selalu sabar? Sudahkah kita berusaha dengan sebaik-baiknya dalm mencapai sesuatu? Dengan sisa waktu yang kita punya, apa kah bekal kita sudah siap untuk Akhirat nanti?
--------------------------------------
Setiap Muslim sesungguhnya dituntut untuk bekerja keras
”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (Q.S Nuh:(71):19-20)
”Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (Q.S. Al-Jumu’ah (62): 10)
”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud as, selalu
makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)
”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)
Ref : https://www.facebook.com/permalink.php?id=159473630789482&story_fbid=446751262061716

Bersabar dalam Masalah
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ’Azza wa jalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).
Ref : http://www.dakwatuna.com/2012/12/21/25679/ada-kasih-sayang-allah-di-balik-ujian-yang-datang/

 "... Karena sessungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan"(QS. Al-Insyirah : 5-6)
 Ref : http://eviandrianimosy.blogspot.com/2010/05/membangkitkan-semangat-muslim-untuk.html

Perumpamaan Orang yang bersabar
“Mereka itulah yang mendapat kerbekatan yang sempurna dari tuhan mereka, dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk”. (T.Q.S. Al Baqoroh : 157)
”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” T.Q.S: Az-zumar: 10)
“Alangkah mengagumkam kaum muslimin itu ketika mereka memperoleh kenikmatan mereka bersyukur. Hal ini menjadi sebuah kebaikan baginya. Sedangkan apabila mereka mendapatkan musibah, cobaan, masalah mereka pun bersabar menghadapinya” Al Hadist.
Ref : https://id-id.facebook.com/kabarislami1/posts/501596299904160

Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang (HR. Bukhari).
Ref : http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/beginilah-seharusnya-kita-memanfaatkan-waktu.htm

Manfaatkan Waktu
Kita akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Alloh  akan waktu yang telah kita pergunakan.
“Tidak tergelincir kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal: Umurnya; dihabiskan untuk apa, Waktu mudanya; digunakan untuk apa,  Ilmunya; apakah diamalkan atau tidak, Hartanya; darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya” (Hadist Hasan, Riwayat Tirmidzi )
Umat manusia benar-benar berada didalam kerugian yang nyata apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah  seoptimal mungkin untuk berjalan diatas ketaatanNya.
 “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-`Ashr: 1-3). 
Ref : http://faisalchoir.blogspot.com/2012/05/karena-waktu-kita-begitu-berharga.html

#ForYouForMe , Semoga Bermanfaat~